Jumat, 23 Januari 2015

Positif thinking

Kemaren seorang teman bercerita tentang ketidak adilan.
Tentang orang tua yang tak lengkap dan ayahnya yang tak pernah peduli padanya.
Dari kecil dia terbiasa hidup di jalan mencari sesuap nasi.
Tapi ketika dia dewasa dia kembali bertemu dengan ayahnya.
Dan ayah nya juga tak mengakuinya.Dia mengeluh dan menyesali kenapa dia tak punya orang tua yang lengkap.
Dan menyayanginya.
Aku hanya diam dan menghapus air matanya.
Aku bilang tuhan itu adil .
Lihat diri kamu sekarang,kamu kuat mandiri dan saat anak seusia kamu masih merintis karir.
Tapi kamu sudah bisa memilikinya kamu bisa beli apa pun dengan uang yang kamu punya dan berjalan kemana pun dan hal yang paling penting tanpa campur tangan orang tua kamu.
Kamu sukses karna usaha kamu bayangakan kamu memiliki orang tua yang utuh tapi apa mungkin kamu akan begini.
Kamu tau jika sesuatu yang indah itu butuh proses yang keras dan menyakitkan.
Dan dari itu kita kuat dan jadi yang terbaik.
Seberat apa pun yang kamu alami dari kecil sampai dewasa kamu beruntung.
Kamu masih bisa mengenal orang tua kamu .
Banyak di luar sana mereka tak mengetahui siapa orang tua mereka karna mereka di  buang waktu bayi entah dimana di tempat sampah selokan dan lain sebagainya.
Bahkan tragisnya mereka di bunuh sebelum lahir.
Kamu harus percaya kalau tuhan selalu memberikan yang terbaik.
Hidup terus berjalan tanpa peduli kita sedang apa dia tak akan pernah berhenti.
Jadi hapus air mata mu lakukan yang terbaik .
Karna dengan memikirkan masalah yang kamu hadapi hanya akan membuat kamu hancur.

Rabu, 21 Januari 2015

Hal -hal yang harus di perhatikan sebelum melakukan perjalanan

Sering kali kita memdengar dan membaca baik di televisi mau pun di media cetak atau sosial media ,tentang pendaki yang mengalami kecelakaan.Baik karna faktor alam seperti badai gunung,longsor dan  lain-lain sebagainya.

Sementara faktor kesalahan manusia.Misalnya hipotermia,kekurangan bahan makanan dan lain lain sebagainya.

Hal tersebut dapat di hindari kalau kita memiliki skill dasar di alam.
Seperti kata collin mortlock salah pakar pendididikan alamat yaitu:
1. Kemampuan teknis yg berhubungan dengan keseimbangan gerakan serta kelengkapan peralatan.
2.Kemampuan fisik menyangkut konsisi fisik terhadap tekanan udara dan lain sebagainya
3.Kesiapan mental yaitu pengembangan sikap positif segala aspek untuk meningkatkan kepercayan diri baik kesabaran konsentrasi ,kemandirian dan lain sebagainnya.Serta tak lupa juga kemampuan di pimpin mau pun memimpin.
4.Pehaman kondisi lingkungan pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya yang mungkin terjadi.
Keempat hal diatas bukan hal yang mudah di praktekan.
Tapi lebih baik sebelum kelapangan kita memahami konsep ini.Supaya dapat menghindari hal hal yang tak diinginkan .Karna alam bisa berubah sewaktu waktu

Foto ekspedisi galau putri bunian

Galau putri bunian http://pecintaketinggian.blogspot.com/2015/01/galau-putri-bunian.html

Galau putri bunian

Daerah balai tengah tanah datar.
Goa ini tergolong goa vertikal .
Goa ini belum di ketahui kedalamanya .
Menurut cerita penduduk setempat goa putri bunian.
Di dalamnya ada air terjun bawah tanah sungai bawah tanah dan juga danau besar di bawah tanah.
Sayang tak ada publikasi yang membuktikan cerita massarakat.
Kami sendiri melakukan ekspedisi pada tahun 2012 lalu menyakini cerita penduduk tersebut karna kmi menemukan beberapa sungai yang hilang masuk ke bawah tanah.
Tapi mistik di goa putri bunian masih sangat kuat.
Ini terbukti dari beberapa pantangan yang ada sebelum memasuki goa tersebut.
Salahnya kita harus mengumandang kan azan sebelum masuk ke goa dan beberapa tata krama lainya.
Memang tak sembarang orang bisa memasuki goa ini.
Karna goa ini boleh di bilang masih alami dan belum ada jalur yang pasti.
Ta ada diantra goa putri bunian ada beberapa goa lain nya di sekitar goa tersebut.
Kami sendiri tak bisa memastikan apa goa goa tersebut masih berhubungan.
Karna kami tak cukup banyak waktu untuk melakukan ekdpedisi waktu itu jika anda berminat untuk mencoba cdan datang ke Lintau .

GUNUNG MARAPI


Pendakian di Gunung Marapi melewati hutan pinus, vegetasi hutan dan bebatuan vulkanik. Dari puncak akan terlihat gunung dan danau yang ada di sekitarnya.

I

Gunung Marapi merupakan salah satu dari barisan gunung berapi aktif dengan ketinggian 2891 mdpl. Letak Gunung Marapi di Kabupaten Agam dan Tanah Datar Sumatera Barat. Gunung Marapi di Kabupaten Agam dan Tanah Datar dapat ditempuh dari Padang selama 1,5 jam perjalanan. Cukup membayar Rp 15.000 hingga Rp 35.000 pendaki dapat menuju Koto Baru, yaitu titik awal jalur pendakian. Ada beberapa alternatif jalur pendakian, namun biasanya para pendaki lebih memilih Koto Baru sebagai start pendakian. Dari Koto Baru para pendaki bisa melanjutkan dengan berjalan kaki atau menumpang truk sayur menuju ke pos pendakian.

Pendakian ke Puncak Marapi
Jika berjalan dari Koto Baru ke Pos Pendakian, pendaki akan disuguhi pemandangan tanaman sayur mayur di kiri dan kanan jalan. Di perjalanan ini pula pendaki dapat melihat pemandanganGunung Singgalang yang bersebelahan dengan Gunung Marapi. Di pos pendakian pendaki harus membayar biaya masuk Rp 5000. Setelah membayar, perjalanan kemudian dilanjutkan ke pos pemantau sembari mengisi air untuk bekal pendakian.

Dari pos pemantau pendaki lalu berjalan menyusuri hutan pinus. Setelah hutan pinus habis, maka pemandangan berganti dengan vegetasi primer dan sekunder khas hutan tropis. Selama perjalanan banyak lahan datar yang berpetak-petak untuk mendirikan tenda bagi para pendaki. Setelah melewati vegetasi hutan tropis, selanjutnya perjalanan menunju puncak Marapi didominasi oleh bebatuan, kerikil dan pasir vulkanik yang sangat labil bila diinjak. Pendaki harus lebih berhati-hati. Berikutnya pendaki akan sampai di kawah mati yang berupa dataran luas dan terbuka. Di tempat ini terdapat Tugu Abel.

Dari Tugu Abel ke Puncak Marapi membutuhkan waktu pendakian sekitar 15 menit. Setelah sampai di puncak, pemandangan indah pun akan terlihat. Di puncak Gunung Marapi pendaki bisa melihat beberapa kawah yang masih mengepulkan asap putih. Selain itu rerimbunan edelweis dibalik pepohonan menjadi penghias pemandangan. Jika cuaca sedang cerah, akan terlihat Gunung Kerinci, Gunung Singgalang, Danau Maninjau dan Kota Bukittinggi. Ini disebabkan letak strategis Gunung Marapi di Kabupaten Agam dan Tanah Datar. Indahnya pemandangan dari atas Puncak Marapi sangat mengagumkan. Gunung ini bisa menjadi tujuan pendakian dan aman untuk pendaki pemula. By Rusdi Chaprian

Gunung singgalang



Indahnya Telaga Biru Gunung Singgalang di Kabupaten Agam

Gunung Singgalang di Kabupaten Agam memiliki ketinggian 2877 meter dari permukaan laut. Gunung ini adalah gunung startovolcano yang sudah tidak aktif. Untuk mencapai PuncakGunung Singgalang dibutuhkan waktu sekitar 6 jam perjalanan dengan mendaki. Untuk mencapai puncak gunung ada 3 jalur pendakian, yaitu Koto Baru, jalur Toboh dan Jalur Balingka.

Informasi Start pendakian
Titik awal pendakian Gunung Singgalang di Kabupaten Agam adalah dari Koto Baru lalu berlanjut ke Pandai Sikek. Di Pandai Sikek terdapat berbagai toko kerajinan atau oleh-oleh. Pintu masuk jalur pendakian terdapat antena pemancar stasiun televisi. Pintu masuk terletak di antara tumbuhan pimpiang yang mendominasi jalur awal pendakian. Pimpiang adalah sejenis tanaman rumput-rumputan besar menyerupai tanaman tebu dan bambu. Pendaki perlu menunduk atau membungkuk ketika lewat jalur ini karena batang pimpiang yang menunduk menutup jalur pendakian.

Vegetasi tropis dan cadas mendominasi jalur pendakian
Perjalanan berikutnya di warnai oleh vegetasi hutan tropis. Hutan di gunung ini sangat lembab dengan jumlah cadangan air yang banyak. Perjalanan di jalur ini cukup menanjak dengan kemiringan rata-rata 45 derajat. Setelah melewati vegetasi tropis, pendaki akan sampai di cadas yang berupa bebatuan berwarna kuning dan ditumbuhi pepohonan berjenggot dan Rhododendron. Dari cadas jika beruntung, pendaki  akan mellihat pemandangan Gunung Marapi, Danau Singkarak di kejauhan serta pemandangan Kota Padang Panjang dan Bukittinggi. Sangat mudah untuk mencapai ke puncak gunung karena di sepanjang jalur pendakian ada kabel listrik dan tiang unttuk patokan jalur.

Telaga Dewi di Jalur Pendakian
Setelah melewati cadas, pendaki akan menemui pepohonan yang tertutup lumut tebal tanaman perdu serta tumbuhan kantung semar. Tidak lama setelahnya, pendaki akan menemui Telaga Dewi dengan pemandangan yang sangat indah. Telaga Dewi adalah bekas kawah yang sudah tidak aktif. Dari telaga Dewi menuju ke Puncak Singgalang memakan waktu kurang lebih selama satu jam dengan jalur yang landai 

Setelah hampir satu jam perjalanan, maka sampailah pendaki di Puncak Singgalang. Di puncak Singgalang ditandai dengan adanya antena pemancar. Semua lelah terbayar dengan keindahan pemandangan alam yang luar biasa di Puncak Gunung Singgalang di Kabupaten Agam. By Rusdi Chaprian

Propil Soe Hok Gie

Soe Hok Gie (lahir di Jakarta17 Desember 1942 – meninggal di Gunung Semeru16 Desember 1969 pada umur 26 tahun) adalah seorang aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 19621969. Seperti yang di sadur dari wikipedia

Soe adalah seorang etnis Tionghoa[3] Katolik Roma. Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari provinsi HainanRepublik Rakyat Tiongkok. Ayahnya bernama Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Ia keempat dari lima bersaudara di keluarganya; kakaknyaArief Budiman, seorang sosiolog dan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, juga cukup kritis dan vokal dalam politik Indonesia.
gie 

Pendidikan, karier dan kematian

Setelah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di SMA Kolese Kanisius, Soe kuliah di Universitas Indonesia (UI) dari tahun 1962 sampai 1969; setelah menyelesaikan studi di universitas, ia menjadi dosen di almamaternya sampai kematiannya. Ia selama kurun waktu sebagai mahasiswa menjadi pembangkang aktif, memprotes Presiden Sukarno dan PKI. Soe adalah seorang penulis yang produktif, dengan berbagai artikel yang dipublikasikan di koran-koran seperti KompasHarian KamiSinar HarapanMahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Setelah Riri Riza merilis film berjudul Gie pada tahun 2005, artikel-artikelnya disusun oleh Stanley dan Aris Santoso yang diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan oleh penerbit GagasMedia.

Sebagai seorang pendukung hidup yang dekat dengan alam, Soe seperti dikutip Walt Whitman dalam buku hariannya: "Sekarang aku melihat rahasia pembuatan orang terbaik itu adalah untuk tumbuh di udara terbuka dan untuk makan dan tidur dengan bumi." Pada tahun 1965, Soe membantu mendirikan Mapala UI, organisasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Dia menikmati kegiatan hiking, dan meninggal karena menghirup gas beracun saat mendaki gunung berapi Semeru sehari sebelum ulang tahun ke 27. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Dia dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Soe pernah menulis dalam buku hariannya:
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
Pernyataan Soe serupa dengan komentar Friedrich Nietzsche, kepada seorang filsuf Yunani.
Buku hariannya diterbitkan pada tahun 1983, dengan judul Catatan Seorang Demonstran yang berisi opini dan pengalamannya terhadap aksi demokrasi. Soe dalam tesis universitasnya juga diterbitkan, dengan judul Di Bawah Lantera Merah.
Buku harian Soe ini menjadi inspirasi untuk film 2005, berjudul Gie, yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputrasebagai Soe Hok Gie. Soe juga merupakan subyek dari sebuah buku 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie-: Diary of a Young Indonesian Intellectual. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001, dan berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya KompasHarian KamiSinar HarapanMahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan


Propil Herman Lantang

Pecinta alam selama ini adalah predikat yang di sandang oleh para penggiat alam bebas dan penempuh rimba, terutama sebuah organisasi Mapala ( Mahasiswa Pecinta Alam ),atau pun KPA (Kelompok Pecinta Alam) sebuah predikat yang diberikan dari awam. Namun pada nyatanya, predikat tersebut sering menimbulkan polemik, apakah hanya pada sisi petualangan atau tentang peduli dengan alam? Inilah yang kadang menjadi di lupakan oleh kalangan yang menyandang predikat pecinta alam.Ironis.seperti yang di sadur dari Belantara Indonesia
Herman lantang


Herman Lantang, salah satu kawan dekat Soe Hoek Gie yang ikut berasamanya mendaki Semeru hingga meninggalnya Soe di Semeru, menyatakan, orientasi mapala seharusnya adalah untuk menyelamatkan sebuah daerah, mengenal masyarakat terdekat daerah hingga pelosok, sertasuaka alam.

Ia menyatakan, kepecinta alaman bukan hanya 'melihat' ke Himalaya Nepal, bukan juga Seven Summit. "Jadi lebih untuk menyelamkan jiwa patriotisme untuk mencintai tanah air, bukan orientasi setinggi setinggi gunung untuk didaki bukan sedalam lautan untuk diselami," tuturnya.



Menurutnya, jadi bukan tingginya gunung tapi makin terpencil, makin terbelakang, makin sulit daerah - daerah di Indonesia disitulah letak untuk mencintai alam. "Itulah tujuan mapala jaman dahulu yang beda dengan mapala sekarang," jelas Herman.

Saat ditanya mulai kapan dan siapa yang pertama kali menggunakan istilah pencinta alam, ia menerangkan bahwa istilah tersebut muncul dari ide SOE HOEK GIE teman sejalur dan sepemahamannya. Ia kemudian mengkisahkan secara sekilas awal terbentuknya pecinta alam.

"Istilah pencinta alam, awalnya pengemar alam itu dibawah senat sejak tahun 1964," terangnya. Namun pada tahun 1968 istilah pengemar alam berubah menjadi Pecinta alam dan pada saat itu juga langsung dibawah naungan rektorat.  

Herman lantang salut dengan pola pikir Soe sapaan akrab buat Soe Hok Gie yang sudah punya pola pikir lebih maju bahwa pengemar alam tersebut harus berdiri sendiri dan bukan di bawah senat mahasiswa melainkan dibawah dekan FT - SUI. Berkat usaha tersebut pengemar alam tersebut berubah nama menjadi pecinta alam di bawah rektorat langsung.

Herman Lantang sempat berpesan agar Mapalawan / Mapalawati agar selalu ingat di manapun berada selalu ingat bumi tanah air kita yang tercinta.
Herman dan istrinya


"Jika engkau telah sampai hingga ke taraf ini, maka di pelosok manapun engkau berada, dibawah Matterhorn, di puncak el Capitan di sierra Nevada, di daerah Kasmir atau Nepal, di Hokkaido maupun sekitar gunung Fujijama yang suci ataupun puncak - puncak pegunungan di Selandia Baru, engkau senantiasa dan selalu akan mengarahkan wajahmu kedaerah khatulistiwa diantara benua Australia dan Asia, yaitu ibu pertiwi Indonesia karena dia adalah Mekkah dan Roma bagimu," pesannya.

Ia juga menuturkan secara filosofis bahwa seseorang yang berdialog dengan alam, dengan bintang - bintang dilangit, dengan lembah - lembah dan pegunungan, dengan aliran sungai dan deburan ombak dipantai akan mendapat kesucian jiwa. Masih menurut Herman, bahwa apabila kita senantiasa berdialog dengan alam, tanah air kita sendiri dengan sendirinya akan memupuk rasa cinta pada tanah air dan membangkitkan perasaan patriotisme dalam arti kata yang sebenarnya.

"Tetapi hendaklah engkau berdialog dengan alam dengan sesungguh - sungguhnya dan sejujur - jujurnya bukan berdialog dalam mimbar pidato atau ruangan istana," tambahnya.




Baginya, seseorang yang telah mendapatkan kesucian jiwa karena selalu berdialog dengan alam bebas dapat mencintai tanah airnya dengan hati yang suci bagaikan kesucian air telaga dipegunungan yang tinggi.

" Jika engkau menjadi orang yang demikian, engkau akan menghadapi hidup ini dengan tiada gentar dan engkau tidak akan mengucurkan air mata setetespun apabila engkau nanti terpaksa berpisah dari segala yang ada didunia ini," lanjutnya.

Bang Herman Lantang mengingatkan sekali lagi, bahwa kita dapat menjadi pecinta alam yang baik dan akan menjadi seorang manusia yang dapat mengatakan dengan jujur pada diri kita sendiri bahwa, soal mati bukan menjadi urusanmu, tetapi yang menjadi persoalan utama ialah apa yang dapat kita perbuat dengan hidup kita yang pendek dan singkat di dunia ini untuk kebaikan rakyat dan bangsamu.

Herman Lantang menjadi legenda pendakian bersama Soe Hoek Gie dan Idhan Dhanvantari Lubis, Soe Hoek Gie dimata Herman Lantang adalah penggiat alam bebas sejati dan tokoh penggerak demokrasi untuk Indonesia

Sejarah Pecinta Alam Indonesia

 Kita sering mendengar dan melihat sekelompok orang yang berkumpul dalam suatu organisasi atau perorangan yang menamakan diri mereka pecinta alam .Seperti yang di yang disadur dari Belantara Indonesia
pendaki gunung



Konsep Pecinta Alam dicetuskan oleh Soe Hok Gie pada tahun 1964. Gie sendiri meninggal pada tahun 1969 karena menghirup gas beracun Gunung Semeru. Gerakan "Pecinta Alam" awalnya adalah pergerakan perlawanan yang murni kultur kebebasan sipil atas invasi militer dengan doktrin militerisme - patriotik. Perlawanan ini dilakukan dengan mengambil cara berpetualang dengan alasannya yakni :

"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi ( kemunafikan ) dan slogan - slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung." ( Soe Hok Gie - Catatan Seorang Demonstran ) 

Era pecinta alam sesudah meninggalnya Soe Hok Gie ditandai dengan adanya ekspedisi besar - besaran, dan era berikutnya ditandai dengan Era 1969 - 1974, merupakan era antara masa kematian Gie dan masa muncul munculnya Kode Etik Pecinta Alam .

Era ini menandai munculnya tatanan baru dalam dunia kepecinta - alaman, dengan diisahkannya Kode Etik Pecinta Alam ( KEPAI ) di Gladian IV Ujungpandang, 24 Januari 1974. Ketika itu di barat juga sudah mengenal suatu 'Etika Lingkungan Hidup Universal' yang disepakati pada 1972. Era ini menandakan adanya suatu babak monumental dalam aktivitas kepecintaalaman Indonesia dan perhatian pada lingkungan hidup di negara - negara industri. Lima tahun setelah kematian Gie, telah memunculkan suatu kesadaran untuk menjadikanPecinta Alam sebagai aktivitas yang teo - filosofis, beretika, cerdas, manusiawi / humanis, pro - ekologis, patriotisme dan anti - rasial. 

Dalam Etika 'Etika Lingkungan Hidup Universal' Ada 3 etika yang merupakan prinsip dasar dalam kegiatan petualangan yaitu :

Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill noting but time. 

Dalam Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, disebutkan :

- Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

- Pecinta alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

PRINSIP DASAR PETUALANGAN DAN PECINTA ALAM

1. Dalam pelaksanaan kegiatan petualangan terdapat etika dan prinsip dasar yang sudah disepakati bersama. Etika dan prinsip dasar tersebut muncul sebagai rasa tanggung jawab kepada alam. Selain didukung dengan perlengkapan dan peralatan yang memadai, juga dalam petualangan mutlak diperlukan kemampuan yang mencukupi. Kemampuan itu adalah kemampuan teknis yang yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan gerakan sertaefisiensi penggunaan perlengkapan. Sebagai contoh, pendaki harus memahami ritme berjalan saat melakukan pendakian, menjaga keseimbangan pada medan yang curam dan terjal sambil membawa beban yang berat serta memahami kelebihan dan kekurangan dari perlengkapan dan peralatan yang dibawa serta paham cara penggunaannya. 

2. Kemampuan kebugaran yang mencakup kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam. Berikutnya, kemampuan kemanusiawian. Ini menyangkut pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi / kemauan, percaya diri, kesabaran, konsentrasi, analisis diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.

3. Seorang pendaki seharusnya dapat memahami keadaan dirinya secara fisik dan mental sehingga ia dapat melakukan kontrol diri selama melakukan pendakian, apalagi jika dilakukan dalam suatu kelompok, ia harus dapat menempatkan diri sebagai anggota kelompok dan bekerja sama dalam satu tim. 

4. Tak kalah penting adalah kemampuan pemahaman lingkungan. Pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan spesifik. Wawasan terhadap iklim dan medan kegiatan harus dimiliki seorang pendaki. Ia harus memahami pengaruh kondisi lingkungan terhadap dirinya dan pengaruh dirinya terhadap kondisi lingkungan yang ia datangi. 

Keempat aspek kemampuan tersebut harus dimiliki seorang pendaki sebelum ia melakukan pendakian. Sebab yang akan dihadapi adalah tidak hanya sebuah pengalaman yang menantang dengan keindahan alam yang dilihatnya dari dekat, tetapi juga sebuah resiko yang amat tinggi, sebuah bahaya yang dapat mengancam keselamatannya